Jumat, 21 Maret 2014

Marsa Gowes Community (MGC) Memeriahkan Gowes Goes Green to Salatiga (GGG2S)

Agenda MGC pada hari Minggu 8 Desember 2013 adalah mengikuti Gowes Goes Green to Salatiga (GGG2S), sebuah acara sepeda santai bertema penghijauan kota Salatiga tercinta, di mana para goweser diberi kesempatan untuk menanam pohon di taman Bendosari. Taman Bendosari terletak di perempatan Ngawen, Jalan Lingkar Salatiga, yang merupakan taman yang dibuat Pemkot Salatiga untuk memanjakan penggemar jogging, sepeda, BMX maupun downhill. Pendaftaran peserta gratis, tetapi peserta diwajibkan datang sendiri ke toko sepeda ZZ Cycle di Gladagan, dan tidak bisa diwakilkan. Meski begitu, antusias peserta cukup banyak, dilihat dari jumlah pendaftar yang cukup membludak. Hal ini merupakan kebanggan bagi panitia, karena di saat yang bersamaan, 8 Desember 2014, juga diadakan event sepeda santai di Solo yang menggelar hadiah jauh lebih gemerlap, sehingga diperkirakan animo peserta menurun. Acara dimulai dengan start di Lapangan Pancasila pukul 07.00 dan menuju taman Bendosari melewati jalur sepeda yang sudah disiapkan Pemkot, yaitu mulai Lapangan Pancasila-Jl Brigjend Sudiarto-Kalinongko-Klaseman-Dukuh-Grogol-Warak-Taman Bendosari. Rute ini setidaknya sudah dipakai untuk 2 event sepeda santai, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, tapi medan yang ditempuh cukup menantang, diawali jalur datar, hingga tanjakan ekstrem Warak, dan finish di taman Bendosari.

Anggota Marsa Gowes Community (MGC) bersiap-siap di Lapangan Pancasila


Peserta GGG2S cukup banyak, MGC tidak ketinggalan

Peserta GGG2S dari komunitas lain ikut berpartisipasi

Ketua MGC, Fajar Rusady bersiap mengikuti sepeda santai

Suparman, Marsa Gowes Community (MGC) yang cukup sepuh, pemilik toko kelontong Sari

Pak Jo dan Tri Darsono memarkirkan sepeda di Lapang Bendosari

Fajar Rusady seusai memarkirkan sepeda

Sepeda para goweser terjajar di Lapangan Bendosari

Sekertaris Marsa Gowes Community (MGC) , Ferri Rusady dan Suparman seusai memarkirkan sepeda

Suparman dan Fajar berfoto di belakang panggung

Lagu kereta Buka Sitik Jos sebagai lagu pembuka hiburan GGG2S

Pak Jo dan Fajar Rusady ikut bergoyang lagu Oplosan yang dibawakan vokalis, enerjik & menambah semangat

Tututpen botol, tutupen oplosanmu, emanen nyawamu...........

Lagu Wedhus & Kereta malam tak lupa didendangkan

Anggota Marsa Gowes Community (MGC)  beristirahat sambil mendengarkan alunan musik

peserta GGG2S membawa bibit pohon masing-masing 1 buah untuk ditanam di taman Bendosari

meski sudah tua, peserta GGG2S antusias menanm pohon di titip yang sudah disiapkan panita

lereng taman Bendosari membutuhkan penghiauan agar tidak longsor

pserta sibuk mencari titik yang sudah dilubangi panitia

Bendahara Marsa Gowes Community (MGC), Tri Darsono menanam pohon

Ketua Marsa Gowes Community (MGC), Fajar Rusady tidak ketinggalan ikut menghiajukan bumi Bendosari

Kamis, 20 Maret 2014

Marsa Gowes Community (MGC) Go to Tegalwaton-Senjoyo

Agenda MGC pada hari Minggu 1 Desember 2013 setelah Pasar Suruh adalah Tegalwaton dan Senjoyo. Rute yang ditempuh ke Tegalwaton dan Senjoyo adalah Pasar Suruh menuju arah kota Salatiga, dan di pertigaan Karanglo belok kanang ke arah alternatif Tengaran. 
Tegalwaton dipilih menjadi tujuan rute MGC, karena di desa yang masih asri ini terdapat pacuan kuda bertaraf nasional. Tegalwaton telah berpengalaman menyelenggarakan berbagai event tingkat nasionla, seperti Porprov 2013, Kejurnas Pacuan Kuda PORDASI ke 47 seri II tahun 2013 dilaksanakan pada hari minggu tanggal 15 September 2013. Kejurnas Pacuan Kuda tahun ini menjadi pusat perhatian bagi penggemar olahraga Pacuan kuda (balap kuda) di seluruh Indonesia. Cabang olahraga yang berada di bawah naungan PORDASI ( Persatuan Olahraga Berkuda seluruh Indonesia) ini untuk pertama kalinya dilaksanakan di  Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang dan mendapat sambutan yang luar biasa sekali dari masyarakat di Desa Tegalwaton  dan para penggemar olahraga berkuda di Jawa tengah pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
http://www.semarangkab.go.id/

Tegalwaton kini disebut Kampung Cowboy, yang muncul sejak tahun 1965 silam berkat ide brilian MbahPriyo panggilan akrab Supriyono,  karena dia melihat banyak potensi di kampung ini yang belum tergarap, di mana desa kecil ini warganya memiliki 250 kuda. Sementara itu seiring dengan perkembangan Kampung Cowboy tersebut, kesejahteraan warga ikut terangkat karena banyak bermunculan warung makan dan usaha jasa lainnya. Tidak ketinggalan pula sekolah berkuda di Tegalwaton bernama Arrowhead. Potensi desa Tegalwaton memang luar biasa untuk memelihara  kuda pacu dan untuk wisata serta  latihan calon atlet. Bahkan Kampung Cowboy di Jateng ini kemungkinan adalah satu-satunya hanya Kampung Cowboy.
Saat hari Sabtu dan Minggu serta hari libur, banyak pengunjung yang berwisata di Tegalwaton. wisatawan dari luar kota itu sangat menyukai naik kuda pacu dan kuda poni. Sehingga menjadikan keberadaan desa Tegalwaton semakin terkenal Dengan aura Kampung Cowboynya.
sumber:http://tolegalton.blogspot.com/

pacuan kuda Tegalwaton (tribunnews.com)

pacuan kuda Tegalwaton (tribunnews.com)

perjalanan panjang akhirnya MGC samapi tujuan di Tegalwaton

Anggota Marsa Gowes Community sampai di arena pacuan kuda



Arena pacuan kuda Tegalwaton sepi ketika tidak digunakan

Ketua Marsa Gowes Community (MGC), Fajar Rusady dengan banckround arena pacuan kuda

Anggota Marsa Gowes Community (MGC) singgah di Arrowhead Park

Peternakan kuda Arrowhead, menampung puluhan kuda pacuan

maket di Arrowhead

Ari Jiteng bersama kuda pacuan di Arrowhead

Fajar Rusady bersama kuda pacuan di Arrowhead

Kuda pacuan yang saya lupa namanya, hehehe

Berada di wilayah kabupaten Semarang Tepatnya di Desa Tegalwaton Kabupaten Semarang, tapi banyak juga masyarakat kota Salatiga yang memanfaatkan Air Senjoyo. Bening, dan segar langsung nampak ketika melihat pemandian di kolam utama ini. Air dai Senjoyo merupakan nyawa bagi ribuan warga kota Salatiga, betapa tidak warga Salatiga mendapat akses air PDAM yang sumbernya diambil dari mata air ini. Pemandian Senjoyo sangat terkenal di daerah salatiga dan sekitarnya karena tempatnya masih perawan, alami ,adem dan bagi para angota pramuka juga di siapkan Bumi perkemahan dengan pemandangan alam dan sumber air yang cukup.Pemandangan Senjoyo sangat asri dan rindang, banyak pepohonan bongsor, tinggi menjulang mencengkeram langit, yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Tiap hari, ratusan warga sekitar maupun warga dari luar Senjoyo memenfaatkan air ini untuk mandi, sedot air, maupun kungkum pada acara ritual tertentu. Ritual biasanya pada amlam Selasa Kliwon, Jumat Kliwon maupaun malam tanggal 1 Suro. Saat akhir pekan atau malam tanggal 1 Suro pengunjung membludak hingga pakiran penuh tidak mampu menampung pengunjung. Hal ini dimanfaatkan warga sekitar untuk menuai rejeki berupa menjadi petugas parkir maupun menjajakan makanan kecil maupun hidangan makan siang.

pemandian Senjoyo

Seorang anak bermain di Pemandian Senjoyo

pohon berusia ratusan tahun menghiasi pemandian

Bak kontrol PDAM Salatiga

warga sekitar memanfaatkan Senjoyo untuk mencuci baju


 Sendang Senjoyo yang di yakini mempunyai seribu kisah sejarah yang terletak di wilayah kabupaten Semarang Tepatnya di Desa Tegalwaton Kabupaten Semarang seringkali di jadikan tempat semedi dan lelaku oleh para praktisi spiritual,selain Pemandagan sangat alami, ditambah ikan yang berkeliaran bebas terlihat jelas,senjoyo dikenal sebagai sendang panguripan yang mempunyai petuah dan banyak aura positif di kawasan ini,maka itu tempat ini sering di kunjungi oleh pelaku praktisi spiritual dari berbagai daerah bahkan berbagai propinsi.
Selain tempat ini nan idah disini juga masih banyak di jumpai Berbagai situs bebabatuan berelief peninggalan kuno,Konon Pemandian Senjoyo ini digunakan oleh para Raja Raja.
Selain itu di tempat ini terdapat patung yang di kanan kirinya ada tempat pembakaran dupa. Juru kunci Sendang Senjoyo, Mbah Jasmin (82) mengatakan banyak juga orang yang melakukan larung untuk membersihkan diri jasmani dan rohani di Sendang itu.
Mbah Jasmin yang merupakan generasi ketiga penjaga Sendang Senjoyo menuturkan, menurut legenda, Mas Karebet atau Joko Tingkir pernah bertapa kungkum di Senjoyo. Kelak di kemudian hari, Joko Tingkir berkedudukan sebagai penguasa Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo.
Ada riwayatnya mengapa Senjoyo menjadi tempat kungkum. Konon, menurut legenda, Mas Karebet atau Joko Tingkir pernah bertapa kungkum di Senjoyo. Kelak di kemudian hari, Joko Tingkir berkedudukan sebagai penguasa Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo.
Legenda Senjoyo dengan Mas Karebet-nya itu masih populer di tengah masyarakat sampai saat ini. Konon, katanya, air sendang yang biasanya tenang tiba-tiba menyembur deras. Jika dibiarkan, bisa terjadi banjir.
Bujangan dari Desa Tingkir itu cepat memotong rambutnya untuk menyumbat mata air yang menggila. Konon rambut gondrong Joko Tingkir menjadi penyaring mata air sendang hingga air mengucur bening sampai hari ini

sumber: http://negoroalus.blogspot.com/
Widodo dan Elan JM didepan kolam yang biasa digunakan sebagai kolam ritual kungkum


Fajar Rusady dan Elan JM didepan kolam yang biasa digunakan sebagai kolam ritual kungkum

Anggota MGC, Widodo melintasi warga yang sedang mencuci

Marsa Gowes Community (MGC) Go to Suruh

Agenda MGC pada hari Minggu 1 Desember 2013 adalah dengan rute pasar Suruh. Suruh sendiri daerah yang amat familiar bagi warga Salatiga dan sekitarnya, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Suruh terbagi atas 17 desa:yaitu Beji\ Lor, Bonomerto, Cukilan,Dadapayam, Gunung Tumpeng, Jatirejo, Kebowan, Kedungringin, Ketanggi, Krandon Lor, Medayu, Plumbon, Purworejo, Reksosari

Sejarah  Desa Suruh

Pada jaman dahulu Desa Suruh masih berupa hutan belantara, namun sudah terdapat penduduk meskipun jumlahnya masih sedikit. Pada saat Belanda datang memerangi Surakarta dan Kartasura yang akhirnya diadakan perdamaian terdapat kerabat Keraton Surakarta yang menolak ketentuan yang disampaikan Pemerintah Belanda yaitu Raden Setiyo Manggala yang dikenal dengan nama Mbah Suruh disertai oleh puteranya  Raden Aji Manggala Putra beserta abdi dalem Raden Gus Kento Sastra yang dikenal dengan nama Mbah Wakil serta Raden Gus Kento Sahab. Karena rasa ingin segera mendapatkan tempat  sesuai dengan yang diinginkan, maka setelah berada di daerah inilah maka Raden Setiyo Manggala memberi nama Desa Suruh. Kemudian beliau bertempat tinggal di Dusun Pandean (sekarang),  sedang Raden Gus Kento Sastra bermukim di daerah Kauman RT 05 (sekarang), dan Raden Gus Kento Sahab bermukim di Banggirejo (sekarang).

Dalam perkembangan berikutnya Raden Setiyo Manggala membuat kios / warung sehingga berkembang pesat dan jadilah Pasar Suruh sekarang ini. Setelah penduduk semakin banyak beliau ingin mendirikan masjid yang terletak di Dusun pandean. Namun sebelum pondasi masjid selesai datanglah seorang Kyai agama yang bernama Raden Astra Wijaya yang dikenal dengan Kyai Encik Domo. Dari hasil musyawarah beliau berdua akhirnya disepakati  bahwa pendirian Masjid Suruh dipindah di wilayah Kauman (sekarang) dengan pengambilan air untuk keperluan masjid dari sumber mata air Naga Ngakak sekitar Sendang Kauman. Pada masa itu untuk kelangsungan perawatan masjid maka beliau membagi tugas pekerjaan, Raden Gus Kento sastro (Mbah Wakil) ditugasi untuk mengadakan tarikan restribusi pasar, saat itu yang ditarik bukan berujud uang tetapi hasil yang diperdagangkan dan selanjutnya dibagikan kepada warga sekitar yang kurang mampu atau muallaf. Sedang Raden Gus Kento Sahab diberi tugas sebagai pemberi penerangan kepada seluruh warga Desa Suruh.

Sebelum pembangunan masjid selesai Raden Setiyo Manggala wafat, dan selanjutnya putranya diasuh oleh Raden  Astra Wijaya. Pada masa kepemimpinan Raden Astra Wijaya, Raden Aji Manggala Putra sudah cukup dewasa dan diberi tugas oleh Raden Astra Wijaya untuk merencanakan penataan desa, sehingga seperti sekarang ini tata Desa Suruh. Setelah tata desa teratur maka Raden Astra Wijaya mendatangkan ahli-ahli di bidang teknologi sederhana saat itu untuk mempercepat laju pembangunan Desa Suruh. Ahli pertukangan kayu ditempatkan di Dusun Mesu, ahli kuningan ditempatkan di Dusun Kauman, ahli gerabah ditempatkan di Dusun Morangan,  ahli peralatan pertanian dan kemasan ditempatkan di Dusun Pandean.
Raden Aji Manggala Putra karena kehalusan budi pekerti dan santunnya maka disarankan untuk berganti nama dengan Kyai Abdul Karim. Raden Aji Mangala Putra berputera empat orang yaitu Hasan Arif, Muhammad Qirom, Muhammad Muchsin dan Roro Sireng.
 sumber: http://desa-suruh.blogspot.com/

Rute yang ditempuh ke Pasar Suruh adalah start dari Gedung Islamic Center Margosari pukul 06.30, menyusuri kota melewati Tamansari-Buk Suling-Nanggulan-Vlondo-Klumpit-Kalibening-Kali Londo-Ujung ujung-Pandansari-Nyamat-Prampelang-Duren-Nali-Sumberejo-Tuk Songo-Petean-Krandon-Jengglong-Morangan-Mesu-Pasar Suruh



Anggota Marsa Gowes Community (MGC) start dari Islamic Center menuju Pasar Suruh


Anggota Marsa Gowes Community (MGC) berpose sebelum berangkat


Tri Darsono dan anggota Marsa Gowes Community (MGC) mendaki tanjakan Ujung-ujung

Tanjakan Ujung-ujung terkenal sebagai tanjakan ekstrem yang merupakan perbatasan Kota Salatiga dan Kab Semarang. Tanjakan ini terletak sekitar 4 km dari pusat kota, dengan kemiringan mencapai 40 derajat sehingga tak heran banyak anggota Marsa Gowes Community (MGC) yang tidak kuat menanjak, menuntun sepeda mereka. Tanjakan ini juga sangat gelap waktu petang menjelang, banyak kendaraan bermotor terperosok ke jurang dan bendungan di bawah Ujung-ujung ketika menuruni tanjakan ini, sehingga menuntut pemakai jalan ekstra hati-hati jika melewati tanjakan ini.

Sesampainya di desa Sumberejo, anggota Marsa Gowes Community (MGC) beristirahat

Bengkel 5857, tempat beristirahat Marsa Gowes Community (MGC), disamping melakukan silaturahim

Slamet Warjito, pemilik bengel 5857 berpose dengan anggota MGC, Fajar Rusady, Elan, dan Tri Darsono

Anggota Marsa Gowes Community (MGC) beristirahat sambil menikamti hidangan yang disajikan 

Ketua MGC, Fajar Rusady memarkirkan sepeda begitu sampai pasar Suruh

Kegembiraan Anggota Marsa Gowes Community (MGC) ketika sampai tujuan

Ari Jiteng, anggota baru MGC asal Candirejo Kab Tuntang